Selasa, 17 Januari 2012

FILSAFAT AGAMA

I. PENGERTIAN FILSAFAT AGAMA

A. Karakteristik Filsafat Agama

Pengertian etimologis filsafat dan agama kiranya telah umum diketahui: yang pertama “cinta pada kebijaksanaan,” sedangkan yang kedua “tidak pergi” [pengertian etimologi agama ini, jika agama dipadankan dengan religi yang berasal dari kata Latin, religare yang berarti “mengikat,” menjadi identik]. Sedangkan filsafat dalam pengertian terminologis lebih sering didefinisikan sebagai “usaha mencari kebenaran tentang yang ada (realitas) secara reflektif, radikal, metodologis, sistematis, bebas (dari doktrin dan dogma), dan universal yang semata berdasarkan akal budi.” Sedangkan pengertian terminologis yang universal (akomodatif terhadap teologi tradisional, liberal dan natural) adalah apa yang dikemukakan J.G. Frazer, yakni penyembahan kepada kekuatan yang lebih agung dari manusia, yang dianggap mengatur dan menguasai jalannya alam semesta.[1] Meskipun filsafat mempunyai ciri ilmiah, yang karenanya ia juga disebut ilmu, di sisi lain keduanya meneliti tentang objek material yang sama: tentang realitas yang ada, namun yang membedakannya dengan ilmu adalah pada bidang objek formalnya. Bahwa objek formal ilmu cenderung terbatas pada hal-hal yang bersifat fisik dan natural yang berdasarkan pada pengalaman empiris (termasuk empiri sensual, empiri logis, dan empiri probebalistik), sedangkan objek formal filsafat mencakup wilayah fisik, metafisik dan supranatural.

Karena agama juga merupakan suatu realitas (yang ada), maka agama juga termasuk dalam skup objek material filsafat.Jadi secara sederhana dapat dimengerti bahwa filsafat agama merupakan filsafat yang objek materialnya adalah agama dengan menitikberatkan pada aspek rasionalnya.Secara ringkas Nasution mendefinisikannya sebagai “berfikir tentang dasar-dasar agama menurut logika dan bebas.”[2] Lebih jauh lagi Karl Rahner merincikan bahwa filsafat agama merupakan antropologi metafisik yang harus bersifat teologi dasar, bahwa manusia sebagai pribadi yang bebas – tidak dapat tidak – pasti berhadapan dengan Tuhan. Oleh itu Rahner menambahkan bahwa ciri khas filsafat agama adalah keterbukaan yang siap sedia dan kesediaan yang terbuka bagi teologi.Dengan pengertian filsafat agama di atas, dapat disimpulkan bahwa filsafat agama hanya membahas dasar-dasar agama pada umumnya, bukan dasar-dasar agama tertentu; filsafat agama tidak terikat pada dasar-dasar agama, melainkan justru untuk menilai kebenaran dasar-dasar itu sendiri secara filosofis; filsafat agama tidak dapat memaksa teologi dan tidak dapat menentukan hukumnya; dan bahwa filsafat agama tidak dapat menjangkau tentang fakta wahyu.B. Faedah Mempelajari Filsafat Agama


Arti penting mempelajari Filsafat Agama bagi sarjana agama adalah agar ia mampu membahas dasar-dasar agama secara analitis dan kritis tanpa terikat pada ajaran-ajaran agama tertentu dan tanpa ada tujuan untuk menyatakan kebenaran suatu agama – setidaknya faedah ini berlaku bagi sarjana agama yang berpandangan bahwa free value merupakan akar obyektivitas. Sebaliknya – bagi sarjana agama yang menganggap bahwa free value hanyalah mitos yang tidak mungkin tercapai, maka ia berpandangan value bond – agar ia mampu membahas dasar-dasar agama secara anilitis kritis, dengan maksud untuk menyatakan kebenaran ajaran-ajaran agama, atau sekurang-kurangnya untuk menunjukkan bahwa agama tidaklah mustahil dan tidak bertentangan dengan logika.

Lebih jauh lagi, jika perjalanan filsafat ditelaah dengan seksama maka kecende­rungan filsafat, akan terlihat tidak lagi melulu berorientasi kepada science tapi juga kepada metha-science, etik, dan bahkan meta-etik. Ini artinya bahwa masalah metafisik dan justifikasi epistemologi moral dan religius, tidak usum lagi disebut sebagai “meaningless” hanya karena tidak bisa diterapkannya prinsip verifikasinya ala Vina Cyrcle.Tepatnya rasionalisme kritis-nya Karl Popper dengan menggunakan prinsip falsifikasi telah “mengafkirkan” prinsip verifikasi Lingkaran Wina.Karena sejarah ilmu pengetahuan menunjukkan bahwa seringkali ilmu pengetahuan tersebut justru laihir dari pandangan-pandangan metafisik atau mistis tentang dunia (seperti teori atomisme metafisiknya Leukippos dan Demokritos yang kini telah ditemukan atom dalam fisika). Jika demikian, maka metafisika bukan saja dapat bermakna (meaningfull) tapi juga dapat dinyatakan benar setelah diuji dan dites.[3] Jika hal di atas dikaitkan dengan kebenaran epistemologis, maka mempelajari filsafat agama, baik dengan epistemologi moral dan religius ataupun lainnya, merupakan media untuk berupaya membuat penafsiran Kitab Suci untuk memperoleh tuntunan terpercaya. Apalagi jika menyimak perkembangan filsafat antara tahun 1960 s/d tahun 1990-an yang ditandai dengan menurunnya fideisme eksistensialisme Sartre dan fideisme Wittgensteinian, [yang berpandangan bahwa keyakinan religius tidak dievaluasi secara rasional, melainkan diyakini sebagai bagian paling mendasar dan eksklusif dari pandangan hidup seseorang] telah digantikan oleh evidentialisme dan eksperimentalisme, di mana evidentalis berpandangan bahwa keyakinan religus perlu didukung oleh argumentasi yang beralasan, baik itu berupa argumen ontologis (Charles Hartstone), argumen teleologis (Swinburne), argumen moral (Immanuel Kant) argumen kosmologis (Clarke-Leibniz), maupun argumen kalam kosmologis (William Craig).[4]

Ditinjau dari perkembangan filsafat ilmu yang mengarah kepada aksiologi meta-etik, di mana orientasi Weltanschauung Pasca Perang Dunia II para filosof penganut pendekatan pheno­menologi dan penganut realisme metafisik yang mengintegrasikan nilai etik dalam telaah ilmunya, bagi mereka ilmu tidak lagi obyektif menurut hakekat obyeknya, melainkan subyektif dalam makna yang diorientasikan pada nilai-nilai moral. Dari sini seorang sarjana agama, dengan hasil keyakinan atas kebenaran yang didapat dari filsafat agama, dapat melakukan penelitian melalui pendekatan phenomenologi yang selalu menggunakan acuan nilai yang diyakini, maupun dengan pendekatan realisme metafisik Popper yang mengacu kepada kebenaran universal, ataupun dengan pendekatan realisme metafisik Noeng Muhadjir yang mengacu kepada kebenaran transenden; tanpa harus kehilangan rasa konfidennya sebagai intelektual religius, tanpa harus bersikap inferior di hadapan para intelektual pure science karena mempunyai landasan filsafat epistemologis yang kuat, karena diakui eksistensinya dalam dunia filsafat ilmu.

Sekilas memang naif untuk mengatakan bahwa menghilangkan inferioritas akademis merupakan bagian dari faedah mempelajari Filsafat Agama, namun pandangan di atas akan cukup beralasan jika ditinjau dari sejarah filsafat yang diawali dengan kelahiran filsafat Positifvisme Logis (neo-positivisme, Lingkaran Wina) yang kombinasi dari tradisi empiris David Hume dan logika simbolis Wittgenstein telah melahirkan problem demarkasi ilmiah, sehingga masalah agama tidak dianggap sebagai masalah ilmiah. Problem demarkasi yang ditimbulkan oleh prinsip verifikasi pun merupakan bagian dari bahasan Filsafat Agama[5] pun pada gilirannya justru menjadi pemicu lahirnya kajian religious language dalam Filsafat Agama.[6]

II. HUBUNGAN FILSAFAT AGAMA DENGAN ILMU KALAM, FILSAFAT SCHOLASTIK, DAN TEOLOGI

Hubungan antara filsafat agama dengan ilmu kalam, teologi dan filsafat Scholastik, akan nampak jelas jika dilhat dari aspek historis kronologis munculnya filsafat agama. Ilmu Kalam merupakan formulasi konsep-konsep dan dasar-dasar sistem kepercayaan Islam berdasarkan Al-Qur’an. Kemudian, seiring dengan maraknya gerakan penerjemahan buku-buku filsafat Yunani ke dalam dunia Islam, maka unsur-unsur filsafat juga masuk ke dalam ilmu kalam, guna mengimbangi pemikiran-pemikiran filosof Muslim yang mengadopsi filsafat Yunani, yang kerap ada jarak dengan wahyu. Meskipun para filosof muslim – yang kemudian sering dikategorikan sebagai filosof paripatetik – berusaha meyakinkan kaum teolog bahwa kebenaran filsafat tidak bertentangan dengan kebenaran wahyu, namun dalam dunia Islam, teologi dan filsafat tetap mengambil jarak yang tegas.[7]

Filsafat memasuki Barat lewat sarjana-sarjana Muslim di Afrika Utara (Maroko dan Aljazair) dan Eropa selatan (Spanyol dan Itali).Ketika itu agama Katholik sudah tersebar di sebagian besar daratan Eropa. Pada masa itu didirikanlah sekolah-sekolah yang mengajarkan tujuh macam artes: grammatika, dialektika, geometri, aritmatik, astronomi dan musik yang diproyeksi sebagai lahan pendidikan bagi calon pemimpin gereja. Dialektika merupakan bagian filsafat yang lebih dikenal dengan logika, tapi kemudian dialektika itu mencakup seluruh filsafat, sehingga berkembanglah tradisi filsafat dalam masyarakat gereja.Katholik.[8]

Atas dasar itu, ada yang mengatakan bahwa scholastik adalah filsafat yang berdasarkan atas agama atau kepercayaan, tepatnya agama katholik, tetapi nampaknya yang lebih benar – sesuai dengan namanya, scholastik – adalah suatu aliran filsafat yang lahir dari sekolah-sekolah yang dibangun oleh para pembesar-pembesar gereja untuk calon pemimpin gereja tersebut. Poedjawijatna menyangkal bahwa scholastik merupakan filsafat yang berdasarkan pada agama, sebab dalam sejarahnya fislafat scholastik di Eropa tidaklah berdasarkan wahyu.Kedaulatan filsafat diakui kebenarannya, serta diakui pula adanya ilmu tersendiri, kebenaran ilmu yang berdasarkan atas wahyu, yaitu teologi.

Berbeda dengan di dunia Islam, teologi dan filsafat justru tidak mengambil jarak terlalu jauh, karenanya banyak dalam masyarakat mereka yang merupakan teolog sekaligus filosof, seperti Joanes Scotus (818-870 M.), Anselm (1033-1109 M.), atau Thomas Aquinas (1225-1274 M.) yang kesemuanya merupakan teolog dan filosof. Meski demikian, ada juga yang filosof scholastik yang berupaya menarik garis pemisah antara filsafat dengan teologi, sebagaimana yang dilakukan oleh Albertus Magnus (1203-1280 M.), ia menyatakan bahwa filsafat itu semata berdasarkan akal budi yang dimiliki oleh manusia yang berdaulat secara utuh dalam dunianya sendiri. Sedangkan teologi, ilmu yang berdasarkan wahyu dan berdaulat dalam lingkungannya sendiri. Filsafat bisa, bahkan menurut Magnus, sebisa mungkin mengabdi kepada teologi, tapi dalam prakteknya filsafat tidak berdasarkan pada teologi.[9] Bagi scholastik, wahyu dalam filsafat diibaratkan sebagai mercusuar, tapi bukanlah kemudi untuk mencapai kebenaran. Scholastik memberikan penerangan agama, tapi tidak mendasarkan kebenaran pendapatnya kepada wahyu. Nah, dari interaksi intim antara teologi dan filsafat scholastik inilah kemudian lahir pemikiran-pemikiran filosofis tentang ketuhanan dan masalah-masalah keagamaan lainnya, kelak filsafat ini menjadi disiplin ilmu tersendiri yang disebut sebagai filsafat agama, sebagaimana Anselm dan Aquinas yang keduanya merupakan teolog sekaligus filosof skolastik, kedua nama tokoh ini banyak dikutip dalam banyak buku-buku filsafat agama.

Selain adanya hubungan historis antara filsafat agama, ilmu kalam, filsafat scholastik dan teologi, keempat ilmu ini juga mempunyai hubungan dari sudut kesamaan objek materialnya, yakni agama.Yang membedakan antara keempatnya adalah objek formal dan epistemologi masing-masingnya.Filsafat agama menyelidiki tentang formulasi sitematis dasar-dasar kepercayaan (teologi) agama yang universal, tidak terikat pada wahyu atau terbatas pada teologi suatu agama tertentu, atau dalam istilah Rahner, harus menjadi teologi dasar.

Ilmu Kalam merupakan teologi spesifik Islam.Ia, sebagaimana umumnya suatu teologi, memfokuskan telaahnya pada formulasi sistematis keimanan agama tertentu, dalam hal ini agama Islam, dengan tuntunan wahyu Al-Qur’an. Ilmu Kalam yang dalam sejarah perkembangannya harus berhadapan dengan filsafat helenisme yang diadopsi oleh orang Islam, maupun dengan teologi Yahudi atau Kristen, mau tidak mau juga harus memakai pisau analisis yang sama, sekurang-kurangnya, dialektika Yunani yang dikenal dengan sylogisme dan logika Oleh itulah tak heran jika dalam banyak bahasan Ilmu Kalam, tentang keesaan Tuhan misalnya, ditemukan istilah logika dan ontologi filsafat Yunani, seperti jauhar, jins, ‘ardh, wajib/mumkin al-wujud dan lain sebagainya. Jika dikaitkan dengan Filsafat Agama, ternyata juga ada beberapa tema-tema bahasan yang sama-sama dibahas oleh Ilmu Kalam maupun Filsafat Agama, dengan epistemologis yang berbeda dan – tentu saja – juga dengan performen produk yang juga berbeda. Masalah keesaan Tuhan dalam Ilmu Kalam dibahas dengan tema ”Tauhidullah,” sedangkan Filsafat Agama dengan tema “Ateisme, politeisme, henoteisme, moneteisme dan agnotisme.” Masalah sifat dan perbuatan Tuhan, dalam Ilmu Kalam dibahas dalam “Sifat-Allah wa af’aluHu,” sedang dalam Filsafat Agama dibahas dalam, “Deisme, panteisme, teisme, dinamisme dan animisme.” Masalah rasionalitas dan irrasionalitas agama, dalam Ilmu Kalam dibahas dalam “Mu’jizat,” sedang­kan dalam Filsafat Agama dalam “Miracle.” Demikianlah “Qada-qadar” dan “Akal-Wahyu” dalam Ilmu Kalam dipadankan dengan “Evil,” dan “Problematika Prinsip Verifikasi” dalam Filsafat Agama.

Perbandingan di atas cukup memberikan ilustrasi tentang skup dan wilayah masing-masing Ilmu Kalam dan Filsafat Agama. Juga memberi inspirasi untuk mengambil manfaat dari produk-produk “unggul” rasionalitas Filsafat Agama untuk difilter, diolah, dan didaur-ulang sesuai prinsip epistemologi ilmu kalam yang dibimbing oleh wahyu, untuk direproduksi menjadi pemikiran kalam.

Adapun filsafat Scholastik, sebagai yang telah disinggung di atas merupakan trend filsafat yang tumbuh dalam lingkungan sekolah-sekolah Gereja Katholik pada abad Pertengahan, yang ciri utamanya: Pertama, mengakui kedaulatan masing-masing kebenaran teologi yang berdasarkan wahyu dan kebenaran filsafat yang berdasarkan akal budi. Kedua, bahwa filsafat harus mengabdi kepada teologi.Perlu digaris-bawahi bahwa scholastik bukan semata mengabdi kepada teologi Kristen, melainkan kepada teologi tertentu mana saja, dan dalam lingkup abad pertengahan. Karenanya para filosof Muslim semisal, Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina dan lain-lain masuk ke dalam filosof-filosof scholastik Apa lagi dalam sejarah menunjukkan bahwa Islamlah yang pertamakali membudayakan pengajaran filsafat di sekolah-sekolah.

Dari ciri kedua inilah yang membuka jalan bagi munculnya refleksi-refleksi filosofis tentang ketuhanan dan agama dalam filsafat, setelah sebelumnya dalam tradisi filsafat Yunani fokus utama obyeknya adalah kosmologi.Dan ini pula yang kelak bakal menjadi filsafat agama yang berdiri sendiri tanpa embel-embel “harus mengabdi kepada teologi manapun.”Meski Filsafat Agama sekarang telah berdiri sendiri, berbeda dengan teologi dan scholastik, nama-nama seperti Anselm dan Thomas Aquinas yang keduanya merupakan teolog dan filosof scholastik masih sering dikutip pemikiran-pemikrannya dalam banyak buku filsafat agama.

Sampai pada point ini kiranya jelas sudah hubungan filsafat agama dengan teologi. Jika harus diperbandingkan dengan ketiga macam teologi: natural, tradisional dan liberal, maka filsafat agama lebih mendekati teologi natural, karena ia merupakan hasil dari rasionalitas semata, namun keduanya tetap berbeda. Teologi natural lebih memfokuskan kepada aspek mistis dan ritualnya, sedangkan filsafat agama justru bisa menjadi teologi dasar bagi agama natural. Atau jika diperbandingkan kepada teologi liberal, jika keliberalannya sampai pada tingkat ekstrim, hingga tidak terikat oleh wahyu, hal ini menurut Nasution, justru lebih mendekati filsafat agama.[10] Sedangkan hubungannya dengan teologi tradisional adalah sebagaimana yang telah terlihat pada hubungan ilmu kalam dengan filsafat agama, ataupun pada hubungan antara scholastik dengan filsafat agama. Scholastik merupakan penengah antara teologi dan filsafat agama.

III. DILEMA PEMBUKTIAN FILOSOFIS ADANYA TUHAN

Masalah keberadaan Tuhan merupakan tema filosofis yang telah dibicarakan berabad-abad tahun yang lalu, yang cikalnya merupakan filsafat tentang yang ada, theodicea, suatu filsafat yang mempersoalkan tentang ada-mutlak (absolut being), yang jika ia ada, maka perlu diselidiki sifat-sifatnya, bagaimana kemampuannya, serta bagaimana hubungannya dengan ada-tidak mutlak (manusia dan alam). Seorang filosof yang punya komitmen kuat terhadap agamanya akan melakukan refleksi filosofis guna menemukan argumen adanya Tuhan, yang mana argumen adanya Tuhan tersebut akan menjadi jalan bagi klaim kebenaran wahyu. Dan justru dari aktifitas pembuktian adanya Tuhan inilah, yang merupakan cikal Filsafat Agama hingga menjadi suatu disiplin ilmu tersendiri. It was to demonstrate rationally the existence of God, thus preparing the way for claim revelation,” demikian kata John Hick.[11]

Dengan uraian di atas terlihat bahwa upaya pembuktian adanya Tuhan merupakan suatu usaha yang penting, bukan saja untuk meyakinkan orang lain (baca: atheis dan agnostik) akan adanya Tuhan secara rasional, tapi juga merupakan pembuka jalan bagi klaim kebenaran wahyu, jika argumen tersebut kuat. Namun upaya pembuktian adanya Tuhan dengan filsafat juga bukan tanpa resiko, sebab jika upaya itu gagal, dalam artian tidak memiliki argumen yang kuat dan tak terbantahkan, maka ia justru menjadi penguat alasan agar seorang atheis atau agnostis tetap pada pendiriannya: tidak percaya akan adanya Tuhan. Karena rentan terhadap kontra-produktif inilah banyak yang menganggap bahwa pembuktian Tuhan melalui filsafat sebagai suatu perbuatan tercela. Demikianlah sehingga aliran epistemolgi religius semisal fideisme berpan­dangan bahwa keyakinan religius tidak dievaluasi secara rasional, melainkan diyakini sebagai bagian paling mendasar dari pandangan hidup seseorang.[12]

Di sisi lain, tidak dapat disangkal bahwa perkembangan pemikiran filosofis sepanjang sejarah memperlihatkan suatu kontinuitas tertentu. Maka adalah suatu kelemahan – untuk tidak menyebutkan kemustahilan – mempelajari filsafat, termasuk filsafat agama, tanpa mengetahui tentang perkembangannya sebelum zaman kita.Berbeda dengan ilmu pengetahuan, orang tidak perlu mengetahui Isaac Newton (perintis ilmu fisika pada abad 18) untuk mempelajari ilmu fisika, dan ketidaktahuan itu tidak mengurangi kompetensinya sedikitpun dalam bidang keahliannya. Filsafat selalu harus berdialog dengan sejarahnya dan ia meneruskan problematik filosofis yang diwarisi dari zaman sebelumnya. Namun perkembangan pemikiran filosofis tidak selamanya mengikuti dialektika Hegel[13] di mana antara unsur-unsur thesis (filsafat lama) dan antithesis (keberatan-keberatan baru) masih diakomodir dalam sinthesis (filsafat baru), melainkan juga sering berjalan mengikuti shifting paradigm-nya Kuhn,[14] di mana paradigm/normal scince (filsafat lama) dan anomali-anomali (keberatan-keberatan baru) melahirkan revolutionary science/paradigm (filsafat baru) yang berbeda sama sekali dengan paradigma sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa pemikiran filosofis se-sophisticated bagaimanapun selalu ada antithesis maupun anomalinya. Hal ini wajar saja, sebab sifat dasar filsafat adalah radikal, tidak percaya/terikat pada otoritas pengetahuan apapun, dimulai dari keraguan! Karenanya memfilsafatkan eksistensi Tuhan sama halnya dengan menempatkan Tuhan pada posisi yang labil dan meragukan.

Pada kenyataannya, sejauh argumen-argumen filosofis tentang adanya Tuhan yang telah dihasilkan oleh para tokoh filsafat agama, justru menguatkan kaum feideisme ketimbang evidentialis, di samping menguatkan analisis di atas. Sebab argumen-argumen filosofis tersebut – sebagai yang akan dirincikian pada Bab IV – memiliki kelemahan-kelemahan yang dapat dibantah. Argumen moral Kant, misalnya, bahwa pasti ada Tuhan yang tahu baik-buruk yang menganugerahkan nilai-nilai obyektif dan universal kepada setiap sanubari manusia, memiliki sanggahan faktual. Empat aliran determinisme: naturalisme, sosiologisme, historisisme dan bilogisme menunjukkan bahwa argumen adanya nilai-nilai yang universal dan obyektif itu tidak valid. Determinisme natural yang melahirkan materialisme dan eksistensialisme ateis, semacam Heidegger dan Sartre berpandangan bahwa nilai-nilai itu bersifat subyektif, sebab manusia dalam keyakinannya harus dibuat untuk menentukan nasibnya di dunia.[15] Deteminisme sosiologis memandang bahwa masyarakat merupakan kekuatan deterministik yang besar, sehingga nilai-nilai moralpun dihasilkan dari kondisi masyarakatnya. Bila ia nampak dermawan, berani, dan kesatria, ini disebabkan karena ia telah dibesarkan dalam suatu masyarakat yang bertipe feodalistik; jika ia menjadi haus uang, sadar dagang, mungkin ia dididik dalam masyarakat borjuis; bahkan jika seorang ragu apakah ia harus menjadi seorang teis atau ateis, ini bukan disebabkan karena ia dapat memilih salah satu, tapi karena dua faktor sosial yang berbeda itu terdapat dalam masyarakatnya, yakni polaritas sosial yang mempengaruhi alam berfikirnya. Jadi bukan karena nilai universal, mental dan moral seseorang terbentuk tapi karena ada faktor lain.[16]

Demikian pula deteminisme historis menunjukkan bahwa pemelukan agama, kelas sosial, pemilikan identitas dan personalitas dan seluruh ciri-ciri lainnya telah ditentukan oleh sejarah. Sejarah membentuk pola-pola spirit suatu kaum.[17] Sedangkan determinisme biologis, meskipun ia sedikit lebih mengangkat status manusia dari kerangka-kerangka kaku materialisme, biologisme juga memandang manusia merupakan komposisi dari organ-organ kompleks dan maju yang menetukan watak fisiologis dan psikologisnya. Maka, watak sentimental dari kedua orang kurus dan gemuk, misalnya, bukan disebabkan oleh kepribadian mereka akan tetapi oleh bentuk biologis mereka.[18]

Begitulah, jika dalam argumen moral tentang pembuktian adanya Tuhan – yang menurut Nasution dan Bakhtiar merupakan argumen terpenting dan terkuat dari pada tiga lainnya[19] – telah kontraproduktif berdasarkan analisis di atas plus problem evil manusia yang cukup menonjol dalam bahasan filsafat agama,[20] Dus, jika dilihat dari latar belakang kaum ataeis (ground for disbelief of God) dengan Sociological theory of Religious,[21] justru menguatkan analisis ‘determinisme sosiologis’ sebagai yang dikemukan di atas, telah meng­­goyahkan argumen moral. Konon lagi argumen-argumen ontologis, kosmologis dan teleologis yang berada di bawah tingkatan argumen moral!

IV. ARGUMEN-ARGUMEN FILOSOFIS ADANYA TUHAN

Sebagai yang telah disinggung sekilas dalam bab terdahulu, ada beberapa argumen pembuktian tentang adanya Tuhan yang telah dikemu­kakan oleh para tokoh filosof agama, yang kesemuanya telah diklasifikasikan oleh Kant sebagai argumen ontologis, telelologis, kosmologis, moral dan lain-lain.

A. Argumen Ontologis

Sebenarnya argumen ontologis ini telah ada sebelum masalah-masalah agama menjadi objek materi filsafat, argumen ontologis ini dikemukan dalam filsafat theodisi, di antaranya oleh Plato (428-348 SM.) dan St. Augustine (354-430 M.).Tetapi argumen ontologis yang terkenal dalam filsafat agama adalah yang dikemukakan oleh St. Anselm (1033-1109 M.). Adapun proposisi argumen Anselm tersebut sebagai berikut:

If then that-than-which-a-greater-cannot-be-thought exists in mind alone, this same that-than-which-a-greater-cannot-be-thought is that-than-which-a-greater-can-be-thought. But this is obviously impossible. Thereforthere is absolutly no doubt that something-that-which-a-greater-cannot-be-thought exists both in the mind and in the reality.[22]

Argumen Anselm ini didasari oleh konsep Tuhan dalam Kristen yang diformulasikan sebagai “sesuatu yang ada yang tidak ada lagi yang lebih besar/sempurna yang bisa dikonsepsikan.” Dengan mengikuti argumen Anselm di atas, Gaunilon yang hidup sezaman denganya menyanggah, bahwa argumen Anselm tersebut sangat remeh, sebab jika diterap­kan pada bidang lain akan melahirkan kesimpulan yang berbeda. Jika Tuhan yamg maha besar/sempurna harus ada dalam realitas maka, seseorang akan mencari sesuatu yang paling besar itu dalam realitas dan itu tidak menjamin bahwa yang ditemukan dalam realitas tersebut merupakan Tuhan yang dimaksud oleh Anselm.

Seharusnya argumen Anselm di atas harus diformulasikan sebagai berikut: “Tuhan adalah suatu yang selalu dipikirkan sebagai yang paling sempurna di mana saking sempurnanya, kesempurnaannya itu tidak mampu lagi untuk dipikirkan orang ke-bagaimana-annya. Maka jika yang maha sempurna dengan kesempurnaan yang tak terkira itu cuma ada dalam angan-angan, maka Tuhan tidak beda dengan sesautu yang paling sempurna yang kesempurnaannya itu dapat dipikirkan/diperkirakan dan itu mustahil sebagai Tuhan. Sebenarnya dengan pemahaman argumen Anselm seperti ini sudah cukup kuat, di mana kritik Gaunilon maupun Kant yang masing-masingnya menerapkan/menganalogikan pada negeri dan segitiga tidaklah tepat karena analogi itu tidak sebanding antara yang tidak terbatas dan yang terbatas, antara kebesaran yang tidak dapat diperkirakan dan yang dapat diperkirakan.Dalam analogi dikenal prinsip “al-qiyas ma’al-fariq batil.” (Menganalogikan sesuatu dengan sesuatu yang tak sebanding adalah invalid)

Mungkin yang perlu dipertimbangkan adalah kritik Kant yang lain, juga Harun Nasution. Bahwa “ada”-nya Tuhan merupakan kemestian, ia merupakan esensi Tuhan, jadi adanya dalam konsepsi akal saja tidak mengurangi ketiadaannya dalam dunia realitas. Namun jika sanggahan ini diterima tak bedanya Tuhan sebagai apa yang dikatakan oleh Fuerbach bahwa “manusialah yang menciptakan Tuhan” [dalam konsepsi pikiran mereka]. Jadi argument ontologi di atas gagal membuktikan adanya Tuhan, atau setidaknya – untuk tidak mengatakan: “ tepatnya” – gagal meyakinkan orang ateis dan agnosis bahwa Tuhan itu ada.

Ringkasnya, argumen ontologi sebenarnya yang paling rumit, namun jika seorang filosof dapat menghasilkan argumen yang betul-betul seksama, ia akan merupakan argumen terkuat ketimbang yang lainnya. Hanya saja yang sudah pasti, bagaimanapun kuat argumen itu, ia tetap merupakan argumen metafisik yang tidak bisa dibuktikan secara empiris, dan ini akan tidak memuaskan dan mendapat tantangan dari kaum naturalisme dan segenap subordinasi isme lainnya: materialisme, positivisme, eksistensialisme dan lain-lain.

B. Argumen Kosmologis

Every thing that happen has a cause, and this cause inturn has a cause, and so on in a series that must either be infinte or have its starting point in a first cause… Aquinas excludes the possibility of an infite regress of causes and so concludes that there must be a First Cause, which we call God.”[23]

Argumen Aquinas di atas telah berjalan pada logika yang linier dan mudah dipahami.Di samping karena dekat dengan kejadian sehari-hari. Sebagaimana jika seseorang melihat kursi, meskipun ia tidak tahu dan tak menyaksikan proses terjadinya kursi tersebut, tapi ia yakin bahwa pasti ada yang membuatnya, meski ia tidak dapat memastikan siapa yang membuatnya. Bagi masyarakat awam, argumen ini mungkin akan efektif. Para filosof dan teolog Muslim pun sering mengemukakan argumen ini, dengan teori kebaharuan (dalîl hudûs), teori penciptaan (dalîl ibdâ’), dan teori gerak (dalîl harakah). Kelemahan utama pada argumen ini terletak pada penolakan tiadanya kemungkinan sebab-sebab yang tiada batas yang bisa diartikan sebagai proses timbal balik sebab-akibat yang terus berputar yang tidak diketahui mana titik mulanya.

Kedua ia mendasarkan argumennya pada teori kausalitas yang masih diperdebatkan, sebab – jika dalam Islam dikenal polemik antara Gazhaliy dan Ibnu Rusyd – ilmu pengetahuan kontemporer mengasusmsikan bahwa hukum kausalitas hanya berdasarkan statistik kemungkinan. Karenanya selama dasar teorinya belum memiliki kepastian maka priposisi-priposisi yang dibangun di atasnya pun juga tidak memiliki kepastian. Lagi pula jika teori ini benar, mengapa sebab pertamanya harus(dipastikan) Tuhan, bukan lainnya? Ini merupakan suatu loncatan konklusi.

C. Argumen Teleologis

The natural world is as complex a mechanis, and as manifestly designed, as any watch, The rotation of the planets in the solar system and, on earth, the reguler procession of the seasons and the complex structure and mutual adaptation of parts of living oragnism, all suggest design…. Can such complex and efficient mechanism have come about chance, as a stone might formed by random operation of natural forces?[24]

Sebagaimana argumen kosmologis, argumen ini secara fitrah kemanusiaan memang akan membuktikan adanya Sang Perancang atas dunia yang penuh keteraturan ini. Dalam wahyu Islam justru keteraturan alam inilah yang dianjurkan untuk diperhatikan guna menimbulkan keimanan.Dalam scholastik Islam argumen ini dikenal dengan dalîl inâyah dan dalîl tadbîr.

Argumen ini dikemukakan oleh William Paley.Kritik paling tajam dikemukakan oleh David Hume. Kritik-kritiknya adalah dengan mengajukan fakta-fakta yang menunjukkan ketidak teraturan alam, seperti adanya burung yang punya saya tapi tidak bisa beradaptasi dengan sayapnya, tidak bisa terbang, bahkan burung Pinguin seperti ikan, hidup di air dan tidak dapat terbang.

Analogi Paley terhadap dunia dengan jam, sebab dunia bukan bagian/partikel dari mesin yang luas sedangkan jam dan manusia merupakan bagian dari dunia. Maka jika dunia di analogikan sebagai jam, maka manusia yang menemukan dunia itu harus lebih besar dari dunia itu sendiri, dan hanya dengan lebih besar dari dunia itulah manusia bisa melihat bagian-bagian detail dari dunia yang katanya teratur ini, sehingga fenomena-fenomena dunia yang nampaknya jahat, bisa dilihat mekanisme makronya secara komprehensip dan integral. Tapi manusia hanya merupakan bagian dari jam, jika ia berfungsi sebagai jarum jam ia akan iri melihat angka jam yang tugasnya cuma majang dan magang, sementara dirinya terus diputar oleh mesin setiap saat. Jarum jam mungkin akan menganggap mesin merupakan kekuatan evil.

Problem ‘evil’ merupakan suatu yang menggoyahkan argumen ini, setidaknya bagi mereka yang memandang ‘evil’ dari sudut pandang yang negatif. Di sisi lain, dengan mengikuti analogi Paley, sang desainer jam telah meninggalkan jam itu sendiri. Ini berarti manusia hanya menjalakan tugas yang telah ditentukan, tanpa ada kebabasan. Andaipun ia punya kebebasan ia dengan leluasa bisa mensabotase mekanisme sistem jam, tanpa harus takut sanksi dari sang disainer.

Argumen ini juga mengalami lonjakan kesimpulan. Sebab tidak mesti sang perancang dunia ini Tuhan. Atau jika memang tuhan, bisa jadi sang perancangnya itu tidak satu tuhan, mungkin lebih. Satunya bertugas merancang disain, yang lainnya merancang sistem kerjanya dan lain sebagainya.

D. Argumen Moral

If, as is the case, we feel reponsibility, are ashamed, are frightened, at transgressing voice of consonscince, thi implies that there is One of whom we are responsible, before whom we are ashamed, whose claims upon us we fear…. If the cause of emotionn does not belong o this visible world, the object to which [the conscientions person’s] perception is directed must be Supernatural and Divine[25]

Argumen ini sebagai yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya, secara panjang lebar, telah banyak yang melemahkannya. Argumen ini dianggap yang terkuat dari pada tiga lainnya. Tapi mungkin kekuatan argumen ini karena ia dimunculkan paling akhir dari pada tiga argumen sebelumnya. Kant yang memunculkan argumen ini melancarkan kritik terhadap argumen-argumen sebelumnya untuk memberikan kesan kokoh pada argumennya sendiri.

Jika memang nilai-nilai moral itu universal, dan setiap orang merasakan perasaan yang seragam, maka argumen ini tidak diperlukan lagi. Sebab manusia akan menyimpulkan hal yang sama sebagaimana yang di rasakannya, ada Tuhan yang menentukan nilai-nilai ini. Kenyataannya tidak demikian.Dan kesimpulannyapun jika benar ada keseragaman nilai, maka konklusinya tidak harus kembali kepada Tuhan.

V. RASIONALITAS DAN IRRASIONALITAS AGAMA

Bertumpu pada kejadian dan pengalaman-pengalaman tertentu sebagai landasan keimanan, sebenarnya merupakan argumen tersendiri atas eksistensi Tuhan.[26] Tapi metode ini sangat rentan terhadap invaliditas. Fakta berikut akan menguatkan analis ini.

Ketika Claude Bernard, seorang dokter abad ke 19 menemukan lemak untuk pertama kalinya, ia merasa begitu bangga, sehingga ia menyatakan bahwa ia telah menemukan Tuhan, jiwa dan seluruh fakta tentang manusia. Ia mengatakan bahwa semua ini agaknya terdapat dalam lemak, yang baginya merupakan substansi primordial dari Tuhan dan manusia.[27]

Dalam banyak kasus memang banyak dialami orang yang bertambah keimanannya setelah mengalami atau menyaksikan kejadian ajaib yang sukar dicerna oleh akal. Tapi hal ini hanya efektif bagi yang telah beriman, dan itupun hanya merupakan efek emosional dan intuitif, yang dipengaruhi oleh doktrin keagaman, semisal mu’jazat, karomah, atau ma’unah yang dalam filsafat agama dikenal dengan istilah miracle; sehingga setiap ada kejadian aneh akan dihubungkan dengan doktrin tersebut, sebagai perbuatan Tuhan. Pemahaman ini berlaku bagi penganut agama yang berpaham teisme atau panteisme, tidak bagi deisis agnosis, maupun ateis. Lalu bagaimana jika yang mengalami kejadian irrasional itu itu adalah seorang ateis, hasilnya adalah seperti dr. Bernard di atas. Dan parahnya lagi jika orang-orang seperti Harry Hudson (magiciant ahli melepas rantai di dalam air), atau orang-orang yang pernah menorehkan namanya di Guinness World Records ada yang menganggapnya layak dijadikan tuhan.

Padahal jika itu merupakan aktifitas psikologi, maka yang paling berkompeten menganalisisnya, adalah psikolog, bukan teolog.[28] Kiranya kasus Lia Aminuddin yang mengaku mendapat wahyu dari Jibril as. Untuk mengemban amanat mempersatukan antara Kristen dan Islam, merupakan ilustrasi yang baik bagi fenomena ini.Demikian pula kasus nabi Otong, dan dan banyak kasus lainnya pada beberapa dekade di Indonesia ini yang mengaku mendapat wangsit, dan mereka mengimaninya dengan sungguh-sungguh, sebagai layaknya Nabi sesungguhnya.

Kejadian-kejadian irrasional, sebatas untuk dijadikan sarana penambah keyakinan indivual atas kebenaran imannya kepada Tuhan, maka hal itu sah-sah saja, sebagaimana buku karya penulis Muslim Timur Tengah yang berjudul Allâh fî ‘Ashr al-Hadîst Yatajallâ (Allah semakin nampak di Era Modern), yang menunjukkan bukti kebenaran Al-Qur’ân di Era Modern yang telah diwahyukan pada 14 abad yang lalu. Kejadian irrasional juga bisa efektif bagi seorang ateis jika sebelumnya ia pernah mendengar atau tahu tentang doktrin suatu agama yang saat itu belum ia percayai, kemudian mengalami kejadian aneh yang berhubungan dengan doktrin yang pernah diketahui tersebut. Namun jika peristiwa-peristiwa irrasional dijadikan sebagai bukti adanya Tuhan, dalam era modern ini, tentu kurang solid, sebab ia bisa dipahami dengan cara lain. (any special event or experience that can be construed as manifesting the divine can also be construed in other ways, and accordingly cannot carry the weight of a proof of God’s existence)[29]

Kejadian-kejadian irrasional dalam wahyu memang telah dijadikan sarana untuk membuktikan adanya Tuhan, seperti pembelahan laut di zaman nabi Musa, pembakaran nabi Ibrahim, Banjir di masa Nabi Nuh, dan lain-lain. Tapi itupun menunjukkan inefektifitasnya.Ataukah kisah-kisah tersebut harus dipahami secara simbolik? Sebab ilmu pengetahuan modern, seperti gaya grafitasi bumi menyangkal bahwa air laut tidak mungkin dapat terbelah. Atau bahwa pengabadian jasad Fir’aun di laut Merah, justru telah ditemukan sebab-sebab ilmiahnya mengapa jasad itu tidak hancur. Justru problem miracle inilah yang merupakan latar belakang tidak percayanya kaum ateis atas adanya Tuhan[30]

Persoalan rasionalitas dan irrasionalitas dalam Islam mengingatkan kita pada polemik hukum kausalitas antara Gazaliy dan Ibnu Rusyd. Gazaliy menganggap bahwa peristiwa-peristiwa alam bukanlah karena kausalitas, melainkan karena ada agen penggeraknya, yakni Tuhan, sedangkan apa yang disebut kausalitas hanyalah urutan-urutan kebiasan agen pengerak tersebut. Bagi Rusyd, Tuhan telah menciptakan alam dengan mekanismenya yang lengkap, dengan hukum kausalitas tanpa perubahan, jika Tuhan melakukan sesuatu di luar itu berarti Dia telah melanggar hukumnya sendiri, yang Dia katakan sebagai tidak berubah [Lan tajida li sunnatiLlah tabdila].Tapi bagi kaum teistik Tuhan masih melakukan aktifitas bagi dunia, kiranya inilah yang disebut miracle, sebagai yang irrasional.

Apapun sikap kita terhadap masalah irrasionalitas, maka adalah suatu hal yang arif untuk menjadikan yang rasional sebagai sarana mempertebal keimanan. Sebab dalam rasionalitas ada tiga sikap yang ideal: obyektif, untuk sains; estetik, untuk seni; dan etik, untuk membentuk dasar moralitas. Alber Einsten, Max Planck dan Alexis Carrel adalah contoh tokoh-tokoh ilmuan "raksasa" yang di balik temuan ilmiahnya mereka dibangkitkan oleh rasa takjub oleh jagad raya itu sendiri yang melahirkan keimanan kepada Tuhan.

VI. PROBLEM ‘EVIL’: ANTI TUHAN ATAU ANTI MANUSIA?

Bagi banyak orang, masalah ‘evil’ merupakan suatu yang paling dahsyat bagi penderitaan manusia.Kejahatan alam, keserakahan dan ketamakan manusia bergabung menyatu ‘menciptakan’ kesengsaraan dan kenestapaan bagi manusia. Inilah yang meng­hantarkan manusia pada suatu kesimpulan mayoritas: “ada kekuatan gaib (yang tak terlihat) di atas kemampuan alam dan manusia yang harus ditakuti.” Kesimpulan mayoritas itu pada masyarakat tertentu, yang primitif sekalipun, melahirkan agama natural atau agama kultural, pada masyarakat lain melahirkan kepercayaan pada agama wahyu.

Pertarungan abadi antara kebaikan versus keburukan melahirkan konsep determin­isme natural, yang pada masyarakat primitif melahirkan konsep animisme dan dinamisme; pada masyarakat bertuhan melahirkan konsep deisme, panteisme dan teisme; pada masyarakat ateis melahirkan konsep agama candu masyarakat;[31] pada masyarakat politeis melahirkan konsep tuhan baik dan tuhan buruk; pada masyarakat monoteis melahirkan konsep Tuhan dan Iblis. Paham determinisme historis dan determinisme geografis yang ada pada masyarakat terbelakang, terjajah, dan ‘miskin alam’ melahirkan konsep nasib deter­minan.Paham determinisme sosial yang berkembang pada masyarakat berkelas telah menjadikan mereka pasrah pada kenyataan adanya kasta-kasta dan kelas-kelas yang diperuntukkan bagi mereka.Paham determinisme biologis yang dianut oleh masyarakat ‘berwarna’ memaksa mereka untuk rela menerima perlakuan diskriminasi apertheid.

Pertanyaan yang besar dari kenyataan di atas adalah: Di manakah Tuhan ketika alam dipenuhi oleh kajahatan dan penderitaan ini? Tidak pedulikah Tuhan?Ataukah Dia memang “not all-powerful”?Ataukah memang Tuhan itu tiada atau telah mati? Demikianlah, problem ‘evil’ – di samping menggoyahkan argumen teleologis dan argumen moral terhadap eksistensi Tuhan – juga merupakan tantangan terbesar bagi penganut teisme, bukan bagi penganut deisme, panteisme, maupun – apalagi – ateisme.

Banyak sudah respon-respon yang diberikan terhadap problem ‘evil' yang melahirkan konsep-konsep filosofis tentang evil. Ada eksistensialisme ateis Heidegger dan Sartre; hukum karma beserta Tuhan baik Brahma-Wisnu dan Tuhan Buruk Syiwa dalam Hindu; Tuhan Ahriman dan Ahuramazda dalam Zoroaster; ada paham jabariyah-qadariyah ala determinisme dan predestinasi Islam, sebagaimana kaum Kristiani melahirkan faham predestinasi Calvinisme; ada candu agama yang secara faktual termanifestasi dalam mistisisme Islam, sakiyamuni Budha, paham nirvana Hindu, konsentrasi spiritual eskatologis Lao-Tse, maupun kaum hippies Barat. Ada sekian banyak opsi bagi pemilihan konsep untuk merespon problem ‘evil’ yang telah ditawarkan oleh sejarah, namun seorang sarjana agama tetap harus memilihnya dengan argumen yang jelas.Ia harus dapat menjawab relevansi antara Tuhan yang yang dikonsepsikan Maha Sempurna dengan ‘evil’ dunia dan manusia yang tidak sempurna. Argumen-argumen itu tentu saja telah inklud dalam konsep-konsep yang telah disebutkan di atas.Namun waktu telah bergulir, ilmu pengetahuan telah menyingkap sekian banyak misteri-misteri alam, meruntuhkan, menggoyahkan konsep-konsep yang telah lalu.Karenanya perlu membangun argumentasi filosofis baru.

Ada tiga argumen utama yang dikenal dalam filsafat agama: Pertama, teodisi Augustinian dengan konsep “jatuhnya manusia dari negeri asalnya yang adil” (the fall of man from an original state of righteousness); kedua, teodisi Irenaean dengan konsep “penciptaan gradual atas kemanusiaan yang sempurna melalui kehidupan di dunia yang sangat tidak sempurna” (the gradual creation of a perfect humanity through life in a highly imperfect world); dan teodisi proses teologi modern dengan konsep “Tuhan tidak sepenuhnya kuasa, dan dalam faktanya Dia tidak mampu menahan kejahatan-kejahatan yang muncul, baik dari manusia ataupun proses aktifitas alam” (a God who is not all-powerful and not in fact able to prevebt the evils arising either in human beings or in the processes of nature).

Sejauh ini, uraian yang telah dipaparkan di atas bertujuan untuk memberikan ilustrasi atas konfigurasi pemikiran yang berkembang.Dari konfigurasi tersebut dapat terlihat bahwa paham determinisme [lebih dimaksudkan kepada paham determinisme filosofis ketimbang determinisme teologis] merupakan sebab utama dari munculnya problem ‘evil.’ Dan paham determinisme tersebut muncul bukan karena konsep Tuhan [bahkan konsep pada agama-agama natural konsep Tuhan justru lahir dari problem ‘evil’ ini sebagai yang telah disinggung pada pendahulan babini.] melainkan adalah karena welstanchung manusia tentang konsep manusia itu sendiri. Karena itu anilisis berikut ini lebih menekankan atropofilsofis dari pada teodisi.

Sejarah kemanusiaan di berbagai belahan dunia menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat dan perdaban manusia berwatak cenderung ke akhirat saja atau ke dunia saja.Kemanusiaan di Cina mula-mula condong ke pada dunia, lalu Lao Tse datang dengan agama baru yang memajukan kehidupan sosial.Kong-hu cu menawarkan pengha­pusan kultus pada kehidupan akhirat, menawar konsep kesepakatan moralitas bersama dan kembali ke dunia sensual seperti sebelum LaoTse.India memandang bukan hanya manusia yang punya ruh, alampun juga.Mereka merasa dikerumuni sejumlah dewa yang banyak.Budha datang untuk membebaskan manusia dari belenggu pemujaan takhayul, sampai akhirnya Bhuda – dan kini patungnya – yang disembah.Al-Masih datang untuk membebaskan manusia dari ikatan materialisme dan ritualisme ajaran Yahudi.Ia datang membawa misi cinta damai, tapi ketika Kristen memasuki kekaisaran Romawi, segalanya berubah. Kaum pastur memanipulasi doktrin.Mereka menjadi wakil Tuhan di bumi memiliki otoritas, dalam ilmu pengetahuan sekalipun.Renaisance menuntut sekulerisasi.Agama kian jauh dari kehidupan sosial, untuk akhirnya mempemulus kelahiran materialisme lalu eksistensialisme.Materialisme telah memenjarakan sepiritualitas kemanusiaan dalam bingkai economic animal.Sedangkan eksistensialisme telah memenjarakan moralitas objektif universal ke dalam bingkai moralitas keegoan.Sedangkan scientifisisme, telah memenjarakan intusinya dalam bingkai rasionalitas.Ringkasnya manusia tidak diakui sebagai makhluk tri-demensional.

Filsafat penciptaan manusia dalam Islam, jika memahami wahyu dalam kerangka makna simbolik, maka konsep manusia menjadi sebagai berikut: Manusia adalah makhluk diciptakan secara kontradiktif: dari kesucian spritualitas ruh Tuhan dan kehinaan material tanah lumpur; simbol pertarungan internal manusia antara baik dan buruk. Namun ia juga diberikan intelektualitas yang karenanya malaikat pun harus rela berada di bawah level manusia. Dengan intelektualitasnya manusia dipandang layak untuk mengemban amanat untuk mengelola alam.Jadi manusia tidak dipandang tanpa daya di hadapan Tuhan.Dengan intelektualitasnya manusia diberikan kebebasan dalam bingkai amanat.

Kesadaran manusia atas dirinya sebagai fenomena natural, fenomena fisis, fenomena historis, dan fenomena yang dibentuk oleh lingkungan sosialnya, merupakan tahap kesadaran kognitif manusia sebagai being, tapi jika ia menerima determinitas fenomenalnya secara utuh, maka ia hanya merupakan makhluk being, yang tak ubahnya seperti hewan atau makhluk lainnya. Padahal manusia dalam perjalanan evolusi material, spiritual, dan intelektual­nya – selama proses bergeraknya manusia dari sekedar ada (being) ke arah menjadi (becoming), ia akan mampu melepaskan dirinya dari cengkaraman sebagian besar kekuatan deter­minisme. Dan kenyataannya teori determinsme geografis Ibnu Khaldun yang pada zamannya memang valid, kini telah banyak diatasi, seperti penanggulangan banjir, pengawasan aktifitas gunung berapi dan berbagai kekuatan alam yang membahayakan lainnya. Fenomena Post-modernisme (aspek dekonstruksi sosial) yang bermula lahir di pesisir Afrika Selatan, yang ingin menciptakan manusia baru, gagasan baru dan sejarah baru dari kejamnya kolonialisasi dan hegemoni peradaban, juga merupakan bukti dari runtuhnya determinisme historis Hegel dan determinisme sosial Marx. Kemajuan ilmu kedokteran juga telah menggoyahkan determinisme biologis, sebagaimana konfidennya Michael Jackson menciptakan dan menyanyikan lagu Black or White setelah merubah wajah dan warna negronya melalui operasi plastik. Sampai pada titik ini, nampaknya kurang tepat untuk mengidentikkan ‘evil’ sebagai anti Tuhan (that which is contrary to God’s will)[32] tapi lebih tepat untuk diidentikkan sebagai “anti kemanusiaan” yang harus ditanggulangi oleh manusia itu sendiri meskipun melalui proses evolusi dan sebaliknya ‘good’ (kebaikan) adalah cinta kemanusiaan dan cinta amanat penciptaannya. Dengan cinta kemanusiaan dan cinta amanat penciptaannya inilah, keyakinan immortalitas dalam membela kebaikan dan melawan kejahatan ‘evil’ (dari manusia maupun alam) dapat dimengerti [merujuk kepada hadits amal jariyah dan ayat ketidak-matian kaum syuhada'].

Kiranya ayat berikut ini cukup mewakili sekian banyak ayat lainnya pendukung analisis di atas, yang mengindikasikan fenomena buruk sangka terhadap Tuhan dalam masalah ‘evil’; bahwa segala sesuatunya (termasuk ‘good’ dan ‘evil’) dari Tuhan; serta menunjukkan bahwa manusia harus punya kebebasan, manusia harus menuju proses “menjadi” ketimbang sekedar “mengada” yang cuma pasif dalam mengahadapi kejahatan (evil), yang ujung dari kepasifan juga akan menuju ketiadaan.

يظنون بالله غير الـحق ظن الجاهلية، يقولون هل لنا من الأمر ، قل إن الأمر كله لله، يخفون في أنفسهم ما لا يبدون لك، يقولون لو كان لنا من الأمر شيء ما قتلنا ههنا، قل لو كنتم في بيوتكم لبرز الذين كتب عليهم القتل إلي مضاجعهم وليبتلي الله ما في صدوركم و ليمحص ما في قلوبهم، والله هليم بذات الصدور [33]

VII. TOKOH-TOKOH FILSAFAT AGAMA

Tokoh-tokoh filsafat agama terdiri filosof scholastik abad pertengahan, baik dari Islam maupun Barat, serta para filosof abad modern yang mencurahkan penelitian filsafatnya pada agama. Di antara tokoh tokoh filosof dalam bidang Filasafat agama adalah sebagai berikut:
1. Anselm dalam karyanya Proslogion
2. Thomas Aquinas dalam karyanya Summa Theologica
3. William Paley dalam karyanya Natural Theology: or Evidences of the Existence and Attributes of Deity Collected from Appearances of Natur
4. David Hume dalam karyanya Dialogoues Concerning Natural Religion
5. F. R. Tennant dalam karyanya Philosophical Theology
6. Irenaeus dalam karyanya Against Hersies
7. Whitehead dalam karyanya Religion in the Making
8. John Stuart Mill dalam karyanya Three Essays on Religion
9. Paul Tillich dalam karyanya Systematic Theology
10. Immanuel Kant dalam karyanya Criticque of Pure Reason, Transcendental Dialectic
11. Ibnu Sina dalam karyanya Asy-Syifa
12. Ibnu Rusyd dalam karyanya Fashlul-Maqal
13. Ali Syariati dalam karyanya Man and Islam

Contoh Pemikiran Filsafat Agama Thomas Aquinas

Thomas Aquinas merupakan teolog dan filosof sekaligus.Mengakui kedaulatan masing- masing dua macam ilmu itu.Dalam bidang filsafat Aquinas konsisten dengan epistemologi empirisnya.Dalam buku-buku filsafat agama namanya sering dikaitkan dalam argumen teleologis tentang pembuktian adanya Tuhan.

Secara ontologis semua yang ada di dunia merupakan partisipasi Tuhan.Tapi partisipasi dalam yang ‘ada.’Karena tuhan maha baik, maka segala sesuatu yang ikut dengan Dia juga merupakan kebaikan, karenanya bagi Thomas, di dunia ini tidak ada unsur baik dan buruk.

Ada Tuhan merupakan esensinya, sedangkan pada makhluk, meskipun ‘ada’ dan esesnsi tidak terpisah-pisah namun keduanya berbeda. ‘Ada” merupakan unsur penjawab ada atau tidaknya, ia tidak berbeda dengan jenis makhluk lain, sedangkan esensi unsur penjawab atas keapaannya, maka jika manusia mempunyai esensi lain, selain esensi manusia ia bukanlah manusia. Manusia merupakan makhluk dualisme.Tapi dualisme dalam konsep Thomas merupakan dualisme yang berkesatuan, bukan paralel. Jika jiwa dan fisik bersatu sedemikian eratnya maka dengan sendirinya tak ada satupun pengetahuan yang masuk ke dalam akal kecuali melalui indra lebih dulu “Nil in intellectu nis prius in sensu” Bagi Thomas pengetahuan indera baru merupakan pengetahuan mentah yang harus dimatangkan oleh akal budi. Proses pematangan tersebut melalui tiga fase abstraksi: menanggalkan sifat-sifat individualitas, hanya mengindahkan kuantitas, dan ketiga menanggalkan segala sifat, ia hanya menelah yang ‘ada’ saja.

Dengan perenungan ruhani, manusia mampu mempunyai pengetahuan tentang rohani, yang meskipun pada realitasnya tidak bisa bersentuhan dengan indera. Meskipun ia mengatakan bahwa pengetahuan hanya masuk melalui indera. Tapi karena budi mengejar Kebenaran Sejati sedangkan kehendak mengejar Kebaikan Tertinggi, maka dalam mencari kebaikan, kehendak harus diterangi dengan budi.Ia beranggapan, karena Tuhan itu roh maka jalan menuju kehendak apapun, hendaknya dirintis oleh budi yag menuju kepada spiritualitas Tuhan.

Yang unik dari Thomas adalah konsepnya tentang moral.Baginya moralitas adalah menyesuaikan kehendak manusia dengan kehendak Tuhan.Nafsu bukanlah suatu yang jahat. Bahkan ia merupakakan suatu yang baik. Nafsu baru bisa dikatakan jahat jika manusia mengikuti nafsunya dengan menyimpang dari arah kedua kemampuannya yang menurut kodratnya harus menuju kepada Tuhan.

[1] Cf., John Hick, Philosophy of Religion (New Jersey: Englewood Cliffs, 1983), h. 2; Poedjawijatna, Pembimbing ke Arah Alam Filsafat (Jakarta: Rineka Cipta, 1994), h. 10; Amsal Bakhtiar, Filsafat Agama 1 (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997), h. 10.
[2] Harun Nasution, Falsafat Agama (Jakarta: Bulan Bintang, 1973), h. 3.
[3] Lihat, K. Bertens, Filasafat Barad Abad XX: Inggris-Jerman (Jakarta: Gramedia, 1981), h. 74-5. Prinsip falsifikasi adalah bahwa suatu statemen atau teori dapat dikatakan ilmiah jika padanya terdapat kemungkinan prinsipal untuk menyatakan salahnya (suatu teori yang secara prinsipal mengeksklusikan setiap kemungkinan untuk mengemukakan suatu fakta yang menyatakan salahnya teori itu)
[4] Cf. Noeng Muhadjir, Filasafat Ilmu, Telaah Sistematis Fungsional Komparatif (Yogyakarta: Rake Sarasin, 1998), h. 53-55.
[5] Lihat, misalnya Hick, Philosophy…, chap.“The Problem of Verification”, h. 94-105.
[6] Lihat, Garry E. Kessler, Philosopy of Religion Toward a Global Perspective (Canada: Wadsworth Publishing Co., 1999), h. 373-4; cf., Muhadjir, Filsafat Ilmu…, h. 52 dan 59.
[7] Amin Abdullah, Falsafah Kalam di Era Post Modernisme (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,1995), h.117
[8] Poedjawijatna, Pembimbing…, h. 82

[9] Ibid., h. 88.

[10] Nasution, Falasafat…, h. 6.

[11] Hick, philosophy of Relegion…, h. 1.

[12] Muhadjir, Filsafat Ilmu…, h. 55.

[13] Tentang dialektika Hegel, lihat Louis O. Kattsoff, Pengantar Filsafat, terj. Soejono Soemargono (Yogyakarta: Tiara wacana Yogya, 1996), 125.

[14] Tentang Paradigma Kuhn, lihat Thomas Kuhn; The Structure of Scientific Revolution (Chicago: Univ. Of Chicago, 1962), h. 176-177. Meskipun teori Shifting paradigm ini lebih sering dipakai dalam pengetahuan empiris, namun Kuhn juga memasukkan masalah metafsisk dalam bagian ini, bahkan Konsep Paradigma yang paling orisinal, menurut Ritzer justru pada metafsik ini.. [Lihat, George Ritzer, Sosiologi, Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda, terj. Alimandan (Jakarta: Rajawali Pers, 1985), h.5-6.

[15] Lihat, Ali Syariati, Tugas Cendikiawan Muslim, terj. Amien Rais (Jakarta: Rajawali Pers, 1991), h. 77-8; cf. Bakhtiar, Filsafat Agama…, h. 193.

[16] Syariati, ibid., h. 82.

[17] Ibid..Atas dasar determinisme historis ini, Hegel sebagai pencetus dilalektika historis, mengganggap bahwa pandangan Kant tentang nilai-nilai moralitas yang bersifat universal-transendental tersebut sebagai ahistoris-formalistik. [Lihat , Abdullah, Falsafah Kalam…, h. 102.]

[18] Ibid., h. 83.

[19] Lihat, Nasution, Filasafat Agama…, h. 64; Bakhtiar, Filasafat Agama…, h. 188.

[20] Konsep teologi modern, menyatakan bahwa dengan konsep ‘evil’ Tuhan tidak sepenuhnya berkuasa (not all-powerfull), dan karenanya wajar jika para ilmuwan modern Barat melanjutkan priposisi di atas dengan mengatakan “Tuhan telah mati!” [Lihat, Hick, Philosophy…, h. 41.]

[21] Lihat, ibid., h. 31-34.

[22] Dikutip oleh Hick, ibid., h. 16.

[23] Lihat, Hick, Philosophy…, h. 20.

[24] Lihat, Hick, Philosophy…, h. 24.

[25] Lihat, Hick, Philosophy…, h. 28.

[26] Ibid., h. 29-30.

[27] Dikutip oleh Syariati, Tugas…, h. 143.

[28] Lihat, Hick, Philosophy…, h. 30.

[29] Ibid..

[30] Ibid., h. 36-9

[31] Konsep ini dipelopori oleh Feuerbach dengan ungkapan “Manusia menciptakan Tuhan,” [Lihat, Ali Syariati, Kritik Islam atas Marxisme dan Sesat PikirBarat Lainnya, terj. Husin Anis

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar